Copyright © About Story
Design by Dzignine
Selasa, 19 Februari 2013

Lupa


Di sebuah desa hiduplah seorang nenek yang bernama Sarmi. Nenek Sarmi merupakan salah satu sesepuh desa. Ia dipercaya sebagai seorang ahli nujum yang paling sakti di kampung itu. Sayangnya usia telah menggerogoti kesaktiannya.
Suatu ketika Nenek  Sarmi sedang menimba air di sumur. Kemudian ia memanggil cucunya.
Nenek             : Cu...cu... cepat kemari. Nenek butuh bantuan. (Sambil terengah menimba air)
Cucu                : Iya nek, nih gue dateng. Whats up?? (Datang dengan bergaya)
Nenek                          : Ooh, jadi seperti itu sikapmu terhadap nenek? (Memasang wajah garang, siap   memarahi cucunya)
Cucu                : Eh, maaf-maaf nek, aku lupa, hehe. Ada apa nek ?
Nenek             : Sini lihat! (Menggandeng cucunya mendekati sumur). Saat nenek menimba kok riak airnya agak aneh ya? Tolong panggilkan tukang sumur!
Cucu                : Aneh bagaimana nek?
Nenek             : Itu coba lihat!  Riaknya tidak berhenti-berhenti. Padahal biasanya sehabis di timba, riak air sumur langsung berhenti dan airnya kembali tenang lagi.
Cucu                            : Wah betul nek. Ya sudah aku akan segera memanggil tukang sumur. Assalamualaikum!!
Sang Cucu akhirnya pergi memanggil tukang sumur.
Pak  tukang sumur pun akhirnya datang. Tukang sumur yang satu ini tidak perlu di ragukan lagi, dia adalah pakarnya tentang persumuran. Dengan perlahan ia mengamati riak air sumur nenek, perlahan namun pasti.
Tukang sumur: wah sepertinya ada mata air baru di sumur ini.
Cucu                : Mata air baru?
Tukang sumur: Iya, mata air baru. Biasanya sumur yang usianya sudah lama, tanahnya akan melunak. Sehingga mata air dari tanah dalam mampu menembus permukaan.
Cucu                : Tapi kok beriak terus, Pak ? apa itu pertanda mata air yang besar?
Tukang sumur : Mungkin saja. Tapi, kenapa airnya tidak bertambah naik ya?
Cucu                : Bagaimana kalau dicek ke dalam saja, Pak? (Sambil tersenyum)
Tukang sumur: Wah, yang benar saja! Saya tidak berani, Dik!Ssumur di desa ini dalam-dalam. Apalagi sumur nenek kamu yang sudah puluhan tahun. Terlalu berbahaya kalau saya masuk.
Cucu                : Oalah, yaa sudah pak. Terimakasih.
Pak tukang sumur pun pulang. Cucu nenek masuk ke rumah dan menceritakan kepada Nenek Sarmi tentang keadaan sumurnya.
            Keesokan harinya saat Nenek Sarmi dan cucunya pergi belanja di rumah tetangganya, ia bercerita kepada ibu-ibu yang ada di sana tentang keadaan sumurnya.
Nenek             : Wah bahaya ini!!
Penduduk 1     : Apanya nek yang bahaya ?
Nenek              : Air sumurku beriak terus.
Cucu                           : Memangnya ada kenapa nek kalau air sumurnya beriak terus? Bukankah kata tukang sumur kemarin tidak apa-apa? Hanya muncul mata air baru.
Nenek             : Nenek rasa itu pertanda kalau akan ada banjir besar, gempa, bencana-bencana lain yang akan menghancurkan desa kita.
Penduduk 1     : Ah, yang benar, Nek? Apa itu tidak bisa dicegah?
Nenek              : Bisa.
Cucu                : Bagaimana nek? (bertanya dengan penuh antusias)
Nenek                         : Kita harus memasukkan sesaji ke sumur itu. (berkata dengan mimik wajah serius dan horor)
Penduduk 1     : Oo.. baiklah nek, saya akan segera mengumpulkan masyarakat untuk melakukan upacara pelemparan sesaji ke sumur itu.
Ibu itu pun pergi dengan cucu nenek ke rumah Pak lurah. Ia mulai menyebarkan informasi tentang kondisi sumur Nenek Sarmi.
Setelah berdiskusi di rumah Pak Lurah akhirnya Pak lurah memberi pengumuman kepada warganya tentang sumur Nenek Sarmi dan sesaji yang harus disiapkan.
Pak lurah         : eh, kalian ayo segera kumpulkan beberapa hasil tani untuk sesajian ke sumur Nek Sarmi.
Penduduk 2     : Memangnya ada apa, Pak?
Pak Lurah        : Sumur Nek Sarmi beriak terus.
Penduduk 3     : Memangnya kenapa kalau sumur nenek beriak terus ?
Penduduk 1     : itu pertanda akan ada bencana di desa ini.
Penduduk 2     : ah.. masak ?
Penduduk 3     : iya, lagian bagaimana bisa sumur di jadikan patokan tanda bencana? Nggak logis deh!
Pak Lurah        : eh jangan ngawur kalian. Bukan sumurnya yang  jadi patokan. Tapi Nek Sarmi itu loh!
Penduduk 2     : Wah, Nek Sarmi kan termasuk sesepuh di sini!
Penduduk 3     : Memangnya ada apa dengan Nek Sarmi?
Penduduk 1     : Beliau itu ahli nujum di sini. Ramalannya sudah banyak terbukti. Mungkin ini merupakan ramalannya.
Penduduk 2     : Masak?! Wah, kalau begitu ayo segera kita ambil padi di lumbung. Semoga itu cukup untuk sesaji ke sumur Nek Sarmi.
Pak Lurah        : Baiklah, upacara akan di adakan nanti sore. Tolong kalian datang tepat waktu.
Akhirnya semua penduduk tau tentang sumur Nek Sarmi.  Mereka pun berkumpul di sumur Nek Sarmi tepat waktu.
Nenek              : Penduduk sekalian terima kasih sudah mau datang. Semoga kedatangan kalian ini benar-benar mencegah datangnya keburukan di desa ini.
Penduduk 1     : Nek, terus apa yang harus kami lakukan sekarang dengan sesaji ini?
Nenek              : Cepat lemparkan sesaji kalian ke dalam sumur!
Penduduk pun mulai melemparkan sesaji ke dalam sumur. Namun, bukannya tenang, air di sumur malah semakin beriak.
Nenek              : Ayo cepat-cepat!! Bawakan sesaji kalian, sepertinya bencana kali ini benar-benar sulit di atasi.
Sesajipun terus menerus dijatuhkan ke sumur. Anehnya di pemmukaan sumur itu malah muncul kepala ikan lele.
Penduduk 2     : Lho nek, kok ada ikan lele?
Nenek              : Ikan lele?
Nek Sarmi terdiam beberapa lama. Lantas beliau mengangguk-angguk sambil tersenyum malu-malu.
Nenek              : hehe.... (tersenyum)
Cucu                : Kenapa nek ?
Nenek              : Maaf saya baru ingat kalau minggu lalu saya memang berencana ternak lele di dalam sumur.
Penduduk 2     : Wah pantas saja airnya beriak terus.
Penduduk yang lainpun langsung tertawa mengetahui hal tersebut. Mereka akhirnya pulang dengan hati tenang. Sejak hari itu, Nenek Sarmi akhirnya berjanji untuk berhenti meramal, mengingat usia dan kualitas ingatannya yang menurun.
Story by: Nurhuda
Edited by: Niswatul Hamida
Nura Hajar
Retno Palupi
Rima Aprilia
Rabu, 13 Februari 2013

Teka-Teki Jaket Hitam Silva


Part 3
Hari ini Silva harus merelakan motornya dibawa kakaknya. Motor kakaknya sedang masuk bengkel. Tadi pagi dia berangkat bersama kakaknya, tapi pulang sekolah ini dia harus naik bis kota untuk pulang.
Awalnya dia ditemani Rona menunggu bis di halte. Tapi tiba-tiba Rona mendapat telepon dari ketua ekskulnya untuk segera kembali ke sekolah, jadilah Silva ditinggal sendirian.
Lama sekali Silva menunggu, tapi bis yang akan dinaikinya tidak juga lewat. Hampir putus asa dia menunggu, tapi kalau tidak naik bis dia tidak bisa pulang. Sesekali dia berdiri di pinggir jalan untuk melihat bisnya dari ujung jalan.
Saat untuk kesekian kalinya dia berdiri, tiba-tiba ada yang menjajarinya. Entah kenapa kepalanya reflek menoleh. Dari bentuknya berdiri sih dia sepertinya pernah lihat, tapi siapa ya??
Merasa tidak penting memikirkan orang itu dia kembali berkonsentrasi ke jalan. Tapi, aku inget! Bukannya dia si Indra? Silva kembali menoleh, kali ini tepat saat orang itu menoleh.
Orang itu menautkan alisnya melihat Silva, seperti bingung melihatnya. Kayaknya dia emang bener-bener lupa sama aku deh?
Silva jadi enggan menyapanya, apalagi mengembalikan koin kembalian laundrynya. Silva merogoh saku roknya, koin itu masih di sana.
“Kamu yang punya jaket itu ya?”, Silva menoleh ke sumber suara. Waah, masih ingat ternyata!, seru Silva bahagia dalam hatinya.
“Oo, i..ya..”, jawab Silva kikuk.
“Gimana? Wangikan?”, tanya cowok bernama Indra itu.
“Iya sih, oya, ada yang ketinggalan!”, Silva merogoh kantongnya untk mengambil koin kembalian itu.
“ketinggalan?”
Silva menjulurkan tangan kanannya ke cowok itu. Cowok itu menerima sesuatu yang diberikan Silva untuknya. Dia membaca tulisan di kertas kecil itu. “Langganan laundry ya?”, tanya Silva.
“Hahahaha... buat kamu aja deh, hitung-hitung denda telat ngembaliin jaketnya.”
“Denda tiga minggu Cuma lima ratus perak? Tukang kredit aja duapuluh ribu!!”, protes Silva. Bukannya mau minta uang denda juga sih, tapi keterlaluan banget cowok ini.
“Hehe, aku tambah bakso sama es jeruk gimana? Kan dulu kamu pengen tuh pas aku lagi makan bakso di kantin?”
Silva tidak berani melihat wajah cowok itu, Silva sukses dibuat malu sama cowok ini. Dia polos atau apa sih?
“Gimana?”
“Nggak, nggak usah! Aku udah nggak pengen sekarang.”, jawab Silva bohong. Apalagi makan bakso sama dia, pengen banget.
“ Yah, yaudah kalau gitu. Eh, itu bis kamu bukan?”
“eh, iya. Aku duluan!”, silva cepat-cepat masuk bis.
“Silva, tunggu!” Silva menoleh ke belakang. Cowok itu memberikan koin yang tadi untuk Silva. Silva bingung melihatnya, dia kira tadi Cuma bercanda tapi ternyata cowok itu beneran memberikan koinnya untuk Silva. Dan Silva mau-maunya menerima koin itu.
Silva mencari tempat duduk agak belakang dekat jendela. Setelah pewe silva baru ngeh kalau cowok bernama Indra tadi memanggilnya dengan nama bukan dengan eh atau hei, tapi namanya. Silva. Dia menoleh ke halte, ke arah cowok itu. Dan dia masih berdiri di sana. Cowok itu tersenyum dan melambaikan tangannya ke Silva.
Silva jadi semakin bingung. Tau namaku dari mana? dia meraba nametagnya, tapi tidak ada.nametagnya ada di dalam tas, terus??
**
Selasa, 12 Februari 2013

Teka-Teki Jaket Hitam Silva


Part 2
Mereka berdua berjalan semakin dekat hingga mereka berpapasan. Cowok itu hanya melihat Silva sekilas dan tetap fokus pada jalan di depannya. Tak berbeda dengan cowok itu, Silva tersenyum kecil ke cowok itu, tapi mungkin hanya Tuhan dan Silva yang tahu kalau dia sedang tersenyum saking dipaksakannya senyum itu.
Dia takut-takut menoleh ke belakang dan akhirnya dia menoleh juga. Cowok itu tetap berjalan begitu santainya, seperti tak mengenali Silva, lupa mungkin ya sama wajahku? Ya sudah lah... Silva menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, sedikit kecewa. Dia melanjutkan jalannya lagi menuju parkiran.
**
Sore setengah siang itu, sepulang sekolah di lapangan basket. Silva menemui si cowok nggak jelas yang tadi meminjam jaketnya, lebih tepatnya agak memaksa.
Silva agak ragu awalnya, mengambilnya sendirian atau mengajak teman-temannya. Tapi melihat wajah tema-temannya yang sudah kelelahan dia tak tega. Akhirnya dia ke lapangan basket sendirian. Dengan langkah gontainya dia berpikir, pasti jadi bau tuh jaket dipake, dia kan cowok, secara bau keringat cowok kan lebih menyengat, ooh no!! Dia jadi teringat kakak cowoknya yang seminggu lalu meminjam kaos oblongnya-yang kebesaran. Saat dikembalikan masih belum juga dicuci, akhirnya Silva menghabiskan satu botol pewangi pakaian saat mencucinya.
Lapangan basket terlihat belum terlalu sepi. Silva menyapu pendangan ke seluruh pinggiran lapangan. Hanya cewek-cewek yang bersorak-sorai menyemangati cowok-cowok yang sedang iseng bermain basket.
“Hei!”
Silva dikagetkan oleh suara di belakangnya. Dia menoleh, “Eeh, hei!”
Cowok itu tersenyum lalu menggaruk kepalanya, kikuk. Silva jadi semakin bingung dengan cowok di depannya ini. Silva melihat tangan kiri cowok itu yang sedang tidak menggaruk kepala-ya iyalah, kalau dua tangannya menggaruk kepala pasti cowok ini spesiesnya siamang, hehe. Di tangan kirinya tidak ada jaket Silva.
“Hehe, sorry nih, aku lupa jaketmu yang mana?”
Doeengg!! Silva tak habis pikir, nggak bertanggung jawab banget sih cowok ini.
“Hloh??! Trus gimana dong?”, wajah Silva mulai panik, kesel, dan marah.
Sorrryyyy banget, tapi jangan marah dulu!! Emm, gini deh, kamu ikut aku bentar!”, pinta cowok itu dengan wajah innocentnya.
Silva hanya mengekor di belakang cowok itu, entah jaketnya bisa kembali atau tidak. Ternyata cowok itu mengajak Silva ke kantin. Di sana ada beberapa teman cowok itu dan Silva tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya.
Di kursi kantin itu bertumpuk beberapa jaket berwarna hitam dengan berbagai bentuk. Mulai jaket hitam yang warnanya sudah memudar, sablonnya mulai mengelupas, dan ada juga cardigan girly di sana.
“Jangan bilang jaketku di antara tumpukan itu, trus kamu bener-bener nggak inget yang mana jaketku! Dan kamu ngajak aku ke sini biar aku milih di antara banyak jaket itu yang mana jaketku?”, tebak Silva.
Cowok itu tersenyum lebar dan menjentikkan jarinya tepat di depan muka Silva.
“Yup! Tepat banget!! Soalnya tadi temen-temenku juga minjem jaket warna hitam semua, trus abis main drama kita asal naruh tuh jaket di meja, taunya aku lupa yang mana jaketmu? Jadi kamu.. hloh, eh, tunggu dulu aku belum selesai jelasin, eh!!”
Silva sudah tidak lagi mendengarkan penjelasan panjang lebar cowok itu. Dia berjalan mendekati tumpukan kain berwarna hitam itu. Miris hatinya membayangkan jaketnya yang wangi harus bercampur tak karuan dengan bau cowok-cowok. Tangan putih Silva mulai memilihi jaket itu. Ini sih nggak lagi bau, tapi BAU GILAAAA!!! Aaarrgh!
Silva geram dengan cowok itu! Dia sedang sibuk mencari jaketnya, eh cowok itu malah asyik makan bakso di depannya. “Kamu enak banget sih, nggak ikut bantuin nyari malah makan bakso! Aku juga laper tauu!!”, kata Silva tiba-tiba.
Cowok itu berhenti mengunyah bakso yang masih setengah lingkaran. Demi melihat wajah Silva yang manyun, dia menelan bakso itu tanpa mengunyah. Alhasil cowok itu malah keselek dan terbatuk-batuk. Silva pengen tertawa melihatnya, tapi karna dia terlanjur terlihat marah jadi dia mengalihkan mukanya untuk mengalihkan perhatiannya pada cowok aneh sekaligus konyol itu.
Cowok itu berdiri. “Aduh, sorry,aku nggak tahu kalau kamu laper. Mau aku pesenin juga??”, tanyanya polos. Silva semakin geram. Dia melempar jaket hitam yang sedang ada di tangannya.
“Ah, tau ah! Cari sendiri jaketku sampe ketemu. Warna hitam, resleting depan, tulisannya No Pain No Gain! warna putih, ukuran L, warnanya masih kinclong nggak buluk kayak gini. Oh ya, inget!! Jaketku wangi! Kalau udah ketemu dan jaketku nggak wangi, kamu harus cuci dulu sampai wangi lagi, titik! Terserah kamu, jeketku harus kembali dengan selamat, dan aku nggak mau kalau kamu beliin jaket baru buat gantinya!”
Silva menarik nafasnya panjang, lalu membuangnya gitu aja. Dia berbalik dan meninggalkan cowok itu yang kaget melihat Silva marah-marah. Sebelum pergi Silva sempat melihat es jeruk di meja tadi, uh! Jadi haus marah-marah, pasti seger tuh es jeruk!!
Cowok itu memandangi tas Silva yang menjauh. Dia ganti memandangi tumpukan jaket itu, lalu tersenyum jail. Dia duduk lagi di kursinya dan merogoh ke dalam tasnya. Dia mengeluarkan jaket hitam dari dalam tasnya. Cowok itu hanya geleng-geleng mengingat wajah Silva tadi saat marah-marah. “Siapa juga yang mau beliin kamu jaket baru? Haha.”
**

Teka-Teki Jaket Hitam Silva


Part 1
Plok...plok...plok...
Suara tepuk tangan penonton menggema di setiap sudut aula itu. Penampilan drama dari kelas XI-A1 benar-benar membuat penonton terpesona sekaligus terbahak melihat lakon-lakon yang pantas untuk main  layar lebar siang itu. Agak berlebihan sih, tapi memang begitu adanya, haha.
Silva yang hanya sebagai pemeran pembantu pun bermain dengan begitu luesnya, seolah dia itu adalah bintang sinetron terkenal. Lega sudah rasanya bisa bermain drama di depan penonton yang memenuhi aula.
Siang itu matahari tak segan-segan membakar bumi, membuat aula sekolah Silva yang tidak begitu besar dan sesak oleh penonton menjadi sangat panas. Gerah rasanya berlama-lama di dalam.
Silva keluar dengan beberapa temannya dengan menyampirkan  jaket hitamnya di pundaknya. Jaket hitamnya itu sukses membuat para penonton terkecoh karena dengan jaket itu Silva bisa menyerupai teman-teman cowoknya.
“Eh, boleh pinjem jaketnya nggak?”
Seorang cowok tidak dikenal Silva menghentikan langkahnya. Silva belum pernah melihat wajah cowok ini. Silva hanya berdiri mematung di depannya sambil mengamatinya dari atas sampai bawah.
“Aduuh, boleh nggak nih? Boleh ya? Bentar aja!”
Belum sempat Silva menjawab pertanyaannya cowok itu sudah menyambar jaket Silva dan berlari menuju aula.
“Eh!!” Pekik Silva tertahan, antara kaget dan bingung.
“Pulang sekolah di lapangan basket!”, teriak cowok itu tanpa menoleh ke belakang lagi. Tangannya melambai tak jelas.
Silva memandangi teman-temannya, mereka mengangkat bahu bersamaan, lalu mereka saling berpandangan lagi.
“Siapa sih dia? kok aku belum pernah lihat cowok tadi ya? Anak baru?”, tanya Silva bingung.
“Bukan deh, Sil, kamu aja yang baru pertama kali ini lihat dia. kalau nggak salah sih, dia anak A-5. Ehh, bener nggak sih temen-temen?”
“Kayaknya sih gitu”, jawab Rona dengan mulut berjubal makanan.
Mereka mulai berjalan lagi, menuju kelas mereka yang nggak begitu jauh dari aula. Silva masih mematung di tempatnya, lalu berbalik menuju aula. Dia mengintip dari jendela paling depen. Ooh, jaketku buat main drama juga...
**
Silva memandangi koin lima ratusan di tangannya bergantian dengan jaketnya. Parfumnya menguar ke seluruh kelas. Lalu dia tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadia tiga minggu lalu.
Silva mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, sudah sepi. Hanya tertinggal beberapa tas dan sepatu, ke mana para pemiliknya?, batinnya. Dia pun membereskan mejanya yang berserakan, lalu memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
Dia duduk, lalu memandangi koin itu lagi. “Gimana caranya ngembaliin koin ini ya?”, gumamnya.
Diambilnya kertas pembengkus koin itu dan membungkus koin lima ratusan itu seperti sedia kala. Di atas kertas itu tertulis, KEMBALIAN LAUNDRY INDRA. Silva memasukkan koin itu ke dalam sakunya dan memakai jaketnya.
Silva berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan cowok bernama Indra yang meminjam jaketnya, tiga minggu lalu. Dia merogoh koin yang ada di saku roknya, dia meremas koin itu. Artinya Silva sedang berpikir, dikembalikan sekarang atau tidak ya?

Belalang Abu-Abu


Suatu malam aku pernah bermimpi. Mimpi yang aneh pikirku. Awalnya aku tak mengerti apa arti mimpiku waktu itu. Tapi saat aku mengingat apa yang mengangguku akhir-akhir ini, aku baru menyadari satu hal.


Siang di bulan kemarau yang terik dia berjalan sendirian tanpa teman. Tidak ada yang ingin berteman dengannya, melihatnya pun enggan. Kaki mungilnya yang tidak beralas-tidak mungkin beralas malah-mencoba menyisir jalan yang dipenuhi dedaunan kering yang putus dari rantingnya. Peluh menetes, berkejaran melintasi pipinya. Keringat saja ingin cepat-cepat meninggalkannya, tidak ingin berlama-lama dengannya.
Sungguh malang nasibnya kala itu. Dia menghentikan langkahnya di bawah pohon yang cukup rindang untuk melindunginya dari terik matahari. Duduk berselonjor bersandarkan pohon untuk sejenak mengusir lelah. Pluk!! Sebuah bunga berwarna merah muda menjatuhi kepalanya yang juga mungil. Dipandanginya bunga merah muda itu. Indah. Belum pernah dia menemui bungan seindah itu, bahkan bau wanginya melebihi bau taman bunga dekat tempatnya beristirahat.
Takut-takut dia mendekati bunga itu. Hanya bergerak ke kanan dan ke kiri bunga merah muda itu diterpa angin. Menunggu tangan mungilnya memungut benda merah muda itu sebelum angin membawa bunga itu pergi lagi. Dengan hati-hati tangan mungilnya menyentuh, hanya menyentuh. Kembali ditatap kanan dan kiri. Masih sama. Mereka sedikitpun tidak memperhatikannya, sekedar melihatnya pun tidak. Tangan mungil itu kembali mendekat menyentuh dan merengkuhnya.
Bagus sekali dia. Cantik! Andaikan aku seperti dia, mungkin aku tidak sendirian seperti ini. Ratapnya sedih dalam hati. Hanya dia dan Tuhan yang mendengarnya.
Dia akan memamerkan bunga itu pada semua orang. Bahwa dia yang kelabu mempunyai bunga yang amat indah, wangi, dan mencolok! Dia tak lain adalah belalang malang berwarna abu-abu yang hidup tanpa seorang teman pun. Berjalan sendirian, berbicara sendirian, mengadu pada Tuhan dalam hatinya. Mungkin tidak akan akan ada yang menemui belalang berwarna abu-abu di dunia ini, jika memang Tuhan berkehendak menciptakannya mungkin hanya di negeri ini, tempat belalang itu hidup.
Disapanya Pak Kecoak yang sedang hilir-mudik di dekat tong sampah yang penuh sesak, entah kapan terakhir petugas kebersihan membersihkannya. Dia mendekati Pak Kecoak dengan hati-hati. Perlahan dia tersenyum, melengkungkan garis bibirnya. Pak Kecoak hanya melihatnya sekilas, enggan melihatnya kembali, apalagi berbicara dengannya. Membuang waktu.
Dia tidak menyerah, kembali berjalan mencari teman. Dia melihat ibu laba-laba sedang mengandung. Terlihat ibu laba-laba itu sedang menanti suaminya kembali di jaring-jaring yang susah payah ia buat di sela-sela ranting pohon. Dia menatap ibu laba-laba itu lama, yang ditatap malah membentak! “Pergi kau! Aku tidak ingin nanti anakku berwarna kelabu sepertimu, hidup malang sepertimu. Dasar jelek!!”. Bagai badai yang menghantamnya saat itu. Maki ibu laba-laba itu sempurna menghentikan usahanya. Langit yang sedari tadi cerah memperlihatkan matahari yang dengan nyamannya bertengger di atas sana membakar bumi mulai mendung. Berwarna kelabu.
Air matanya menetes seiring dengan jatuhnya air dari langit yang dikirim Tuhan menemani tangisnya. Mungkin hanya air langit itu yang diutus Tuhan menemaninya sekarang. Sambil tetap mendekap bunga merah muda tadi dia berjalan menyusuri jalan yang kini berair. Kembali dia menemukan pohon, namun tak rimbun. Pohon itu kurus, kering, daunnya hanya tertinggal tiga helai, dan hujan kali ini membayar sudah penderitaannya selama musim kemarau yang mengganas. Dilihatnya pohon itu, kalau saja dia mempunyai kaki pasti dia akan berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Dia mengacuhkan pohon itu, hanya berdiri di bawahnya, pasrah pada tiga helai daun yang entah melindunginya atau tidak. Kecipak!! Genangan air di bawah pohon berirama tidak jelas. Sebuah benda kecil berwarna abu-abu jatuh dari pohon. Dia yang sedang khidmat melamun tertoleh melihat benda kecil itu. Apa? Tanyanya dalam hati, lagi-lagi hanya dia dan Tuhan yang mendengar. Benda itu bergerak, oh tidak, dia bergetar. Sejurus kemudian dia sudah berdiri. Ternyata benda itu juga hidup. Matanya mengerjap, mencoba mengenali sekitarnya. Air. Hujan. Basah. Segar. Dan belalang abu-abu. Kembali ia mengerjap. Aiih, ternyata ada belalang berwarna abu-abu!
Benda itu tak lain juga serangga. Entah serangga berjenis dan bernama apa itu, dari negeri mana pula, yang jelas tidak ada di negeri si belalang.
Serangga itu mendekatinya, mengulurkan tangan, melengkungkan garis bibirnya, tersenyum. Si belalang terlonjak kaget, berjalan mundur menghindarinya. Takut. Namun serangga itu tak menyerah, melangkahkan kakinya. Belalang mundur lagi. Maju selangkah. Mundur dua langkah. Maju dua langkah. Mundur empat langkah. Tanpa ampun serangga itu merebut bunga dalam dekapan belalang abu-abu itu. Si belalang tidak terima. Dia berteriak. Untuk yang pertama kalinya. ”Hei!! Itu punyaku!”
Serangga aneh itu malah tersenyum jahil. Lalu menggapai tangan mungil si belalang. Kali ini dia tidak punya waktu untuk menghindar. Digandengnya tangan mungil itu, entah ke mana. Yang jelas, sang serangga tahu ke mana dia harus membawa belalang abu-abu mungil itu. Sepanjang jalan dia tak henti-hentinya tersenyum bahagia, amat bahagia. Sepanjang jalan itu pula si belalang hanya diam, namun jauh dalam hatinya sana, dia berterima kasih pada Tuhan. Ada yang menggenggam tangan mungil itu. Semakin lama mereka berjalan, semakin menghilang pula bayangan mereka berdua. Hilang. Hanya menyisakan jejak kaki di jalanan yang becek. Indah pada waktunya bukan. Tuhan memang adil.
Saat terbangun dari tidurku, aku benar-benar merasa sangat beruntung. Ternyata Tuhan masih sayang padaku. Terima kasih Tuhan.