Copyright © About Story
Design by Dzignine
Selasa, 22 Januari 2013

Mimpi

Bersembunyi di balik tingginya harapan
di balik kokohnya kepasrahan
Menantang keberanian sang hidup
menanti tangan-tangan kecil menggapainya

Peluh dan desah temani setiap langkah
hujani semangat yang membara
yang bercokol dalam sanubari

Namun tak jua kaki ini terhenti
tegap mematung dalam diam
Menatap pasrah semua yang agung
menunggu tangan-tangan Tuhan
menjemput mimpi

Tetap berdiri walau tanpa kaki
tetap terbang walau tanpa sayap
Membiarkan sang hidup
dengan harapan dan tantangan
Mengejar semua yang tak mungkin
menggapai mimpi dalam langit. . .


Bintang yang Hilang


Bintang yang Hilang
Bintang ku tlah pergi
pergi jauh ke angkasa
Bintang yang belum sempat kusentuh
Mungkin tak sampai anganku
tuk gapainya

Biarlah ia menjauh
tuk berikan sinar itu pada yang lain
Biar ku berdiri sendiri di sini
tuk lihat cahaya semu itu

Sekian lama ku berlari tuk gapaimu
Tapi Tuhan tak pernah izinkanku

Bintangku tlah hilang. . .


Senin, 21 Januari 2013

Hati dan Wajah Kita?


Mengutip sebuah kalimat dari seorang guru tadi siang, niatan dalam hati akan membentuk suatu guratan di wajahmu. Apakah maksudnya? Setiap apa yang kita niatkan akan tampak dari raut wajah kita.
Jika berniat sesuatu yang baik dalam diri kita maka akan timbul suatu guratan yang menyenangkan di wajah kita, begitupun jika kita berniat sesuatu yang buruk. Sebagai contoh, saat kita melihat sinetron di televisi pasti ada tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Seorang tokoh antagonis pasti sudah dapat ditebak dengan mudah oleh pemirsa melalui air mukanya. Mata mereka akan tampak lebih menyalak, sudut-sudut matanya akan tertarik ke atas, tegas, dan sinis. Berbeda dengan tokoh protagonis -yang kebanyakan dalam sinetron Indonesia sebagai tokoh yang teraniaya-, matanya sayu dan teduh. Bukannya sebagai korban sinetron, namun kita pasti akan terpengaruh olehnya.
Kadang dengan mudahnya kita menge-judge apakah orang itu baik atau jahat. Adapula pepatah yang mengatakan dont judge a book from it’s cover, agama Islam juga telah melarang kita untuk berburuk sangka terhadap seseorang, tetapi berhati-hatilah dengan orang di dekat kita yang baru kita kenal.
Ups! Kembali ke topik awal, niatan dalam hati akan membentuk suatu guratan di wajahmu. Pernahkah kalian membaca buku Miracle of Water? Paling tidak kalian pernah mendengar dari teman anda tentang isinya. Iya, tubuh kita terdiri dari air. Analognya sama seperti air, bila diberi kata-kata yang baik atau indah maka kristal air akan membentuk sesuatu yang indah dan menakjubkan, namun  jika diberi kata-kata yang buruk bentuknya akan berubah menjadi mengerikan. Tak jauh berbeda dengan tubuh kita, bila sesuatu yang baik <niat perbuatan baik> mengalir dalam darah kita maka kita akan tempak menyenangkan di mata orang lain, sebaliknya jika dalam darah kita mengalir sesuatu yang jahat <niat perbuatan buruk> maka kita akan terlihat sebagai orang paling menyebalkan sedunia. Mau kah?? Tentu tidak J.
Ooh ya? Masih menyinggung tentang air dan tubuh. Diajarkan dalam Al Quran, Q.S Al Hujarat ayat 11:
ولا تنا بزوا با لألقاب بئس الاسم الفسوق بعد لايمان ومن لم يتب فأ و لئِك هم الظلمون۝
...dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang fasik setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
Maksud ayat di atas adalah melarang kita untuk memanggil sesama dengan panggilan yang buruk, yang mungkin saja seseorang yang kita juluki itu tidak rela jika namanya diganti dengan julukan yang buruk. Siapa sih yang mau dikatain?
Misalkan namanya adalah Yusuf, orang tuanya pasti menginginkan anak tersebut seperti Nabi Yusuf As <walaupun di dunia ini tidak akan pernah ada yang sama, namun itu adalah doa, pasti baikkan?>. Jangan lah kita memanggilnya dengan julukan yang buruk, misal munyuk, maaf bukan bermaksud kasar, namun itulah yang sering terjadi di sekitar kita, pasti yang dijuluki sangatlah merasa kesal dan sedih jika dia yang diharapkan disamakan denngan Nabi Yusuf malah disamakan dengan hewan.
Jadi berhati-hatilah memberi julukan terhadap teman kita, jangan sampai membuatnya tersinggung, kesal, dan sedih. Julukan itu pun dapat mengalir dalam tubuh kita, ingat tubuh kita sebagian besar adalah air!! J
Yah, mungkin itu dulu yang bisa kubagi dengan kalian... see ya guys J

Selasa, 15 Januari 2013

Kata Maaf untuk Kakak

Beberapa hari ini hujan terus mengguyur bumi di tempat tinggalku. Dari subuh sudah hujan sampai ibu-ibu males nyuci karena pakaiannya tidak ada yang kering. Tidak cuma itu,  anak-anak sekolah juga malas pergi ke sekolah karena cuaca dingin yang memberi efek mengantuk tingkat tinggi itu.
            Hari ini hujan masih saja turun padahal aku sudah malas sekali pergi sekolah. Liburan akan datang dua hari lagi dan itulah yang aku tunggu-tunggu semenjak aku masuk ke sekolah ini. Rasanya otakku sudah mau meledak saja. Tapi walaupun liburan aku rasa aku tidak bisa liburan dengan tenang karena PR, tugas, dan ulangan-ulangan sudah menantiku.
            “Assalamualaikum”
            Sore-sore begini rumahku masih saja sepi. Ibuku mungkin masih menjemput adikku mengaji, ayah masih bekerja, sedang aku baru saja pulang sekolah. Karena lapar aku langsung menuju meja makan, aku menemukan nasi dan teman-temannya sudah tertata rapi di meja.
          Sebelumnya kusempatkan menuju ke kamar mencari-cari HP ku. Orang itu lagi, huuh! Dengusku kesal dalam hati melihat jajaran nomor di layar HP ku. Nomor itu adalah nomor orang iseng yang suka ngerayu dan ngegombal, orang itu benar-benar menyebalkan. Aku membanting HP ku ke atas kasur dan kutinggal menonton teve.
            Tak begitu lama rumahku sudah ramai terisi dengan anggota keluargaku.
            “Bunda, aku tidur dulu aja ya? Aku belajarnya nanti aja, udah ngantuk banget, hhoahmm.” Rengekku manja pada Bunda.
            “Nanti kamu kebablasan lagi kayak kemarin-kemarin?”
            “Enggak kok, asal bunda bangunin aja, hehe, ya Bunda yaaa?”
            “Ya udah sana, tapi alarm jangan lupa! Bunda bangunin jam delapan, kalau nggak bangun risiko ditanggung sendiri!!” Kata bunda mewanti-wanti karena aku sudah sering membanting jam wekerku.
            “Iyaaa, hoahmm...”
Aku sangat beruntung memiliki bunda, bundaku itu itu alarm paling canggih yang aku punya, kalau aku susah dibangunkan gosong deh kaki dicubitin sama bunda. Tapi dengan cara itulah aku dan adikku bisa bangun tepat waktu.
            Sebelum benar-benar tertidur aku mendengar sayup-sayup suara adikku meminjam HP ku.
            “Kak, aku pinjam Hp-nya, punya ku pulsanya habis.” Begitulah kalau aku tidak salah mendengar.
            Aku tidak menghiraukannya karena sudah terlalu mengantuk.
õõõ
            Ternyata bunda tidak kalah cepat dengan alarm Hp-ku. Bunda juga membangunkanku tepat pukul delapan malam. Bunda hebaaattt J !!
            Saat aku mulai membuka mata aku melihat adikku sedang memainkan Hp ku. Tanpa basa-basi lagi aku merebutnya dengan paksa, tampak di wajahnya ekspresi kaget plus kesal pada ku. Aku hanya memandangnya dengan tatapan dingin. Kulihat inbox ku, dan ternyata benar, orang iseng itu SMS lagi. Dan messagenya itu sudah terbuka. . . berartiii???
            Aku langsung menatap adikku dengan tatapan kesal dan marah. Dia hanya memamdangku dengan tatapan bingung tanpa berkata apapun.
            “Kamu bales apa tadi SMS nya orang gila itu??”
Tanya ku dengan penuh kemarahan. Entah apa yang bisa membuatku semarah ini. Akhir-akhir ini aku memang tidak bisa mengontrol emosiku. Kesalahan sedikit saja sudah bisa membuatku mengamuk. Dan anehnya, semua ini hanya berlaku di rumah, jadi hanya orang-orang rumah sajalah yang menjadi korban kemarahanku.
            Adikku masih saja bungkam. Dia malah menutup wajahnya dengan bantalku. Aku sangat kesal karena dia sudah ikut campur urusanku. Aku mencubit pahanya. Dia masih saja diam tak bersuara. Aku ganti mencubit pipinya. Dia masih diam. Aku semakin kesal dan mulai menjambak rambutnya. Dia meronta tapi mulutnya tetap diam. Aku semakin panas dan kutarik krah bajunya. Dia semakin meronta dan mulai melakukan perlawanan karna mungkin lehernya sempat tercekik saat aku menarik krah bajunya. Kamar yang tadinya tertata rapi sekarang jadi nggak karuan bentuknya. Bantal dan guling tersebar di lantai, seprai dan selimut sudah terkumpul menjadi satu di pinggir kasur. Aku nggak nyangka ternyata aku dan adikku kalau berantem bisa sebuas ini, sampai bisa menhancurkan kamar serapi kamarku.
            Setelah aku puas berantem dengan dia aku langsung lari ke kamar mandi intuk wudhu dan setelah itu sholat isya’. Setelah sholat rasanya amarahku mulai mereda dan aku pun mulai tenang. Aku pun kembali ke kamar yang mungkin sudah tidak layak disebut kamar. Tanpa sengaja aku melihat adikku sedang menangis di pelukan bunda di ruang televisi. Melihatnya tersedu-sedu aku menjadi kasian dan menyesal telah menganiayanya. Aku langsung masuk ke kamar dan menangis sepuasku. Aku menumpahkan beban yang tersimpan di hatiku yang tidak aku tahu, apa beban itu sebenarnya.
           Setelah lama menangis tenagaku habis dan aku mulai lemas. Kuputuskan untuk ke dapur membuat susu coklat hangat favoritku.
            “Tadi ada apa sih kok adikmu sampai nangis seperti itu?” Tanya bunda tiba-tiba yang muncul di belakangku hingga membuatku tersedak.
            “Uhuuk.. emh, nggak ada apa-apa kok, Bun.” Jawabku berbohong.
         “Tadi adikmu sudah cerita, lain kali baca Istighfar kalau sudah merasa hati mu nggak enak. Jangan cepat-cepat terbawa emosi. Pahanya adikmu gosong semua tuh kena cubitanmu, kasiaan. . .” Bunda menghela nafas beratnya sesaat lalu melanjutkan kalimatnya.
“Tadi itu adikmu cuma membalas SMS teman sekelasmu yang tanya PR, dia bilang kalau kamu masih tidur.”
            Aku hanya menunduk malu dihadapan bunda. Lalu bunda mengelus rambutku dan meninggalkanku. Aku masih menunduk dan mencerna kata-kata bunda tadi. Aku juga menyesal telah melakukannya Bun, begitu mudahnya aku terhasut bisikan syetan!
            “Kak, maafin aku yaa?”
            Suara adikku tiba-tiba mengagetkanku yang masih menunduk. Kulihat dia menatapku dengan ketakutan, wajahnya pucat, dan tangan kanannya terulur ke hadapanku. Kulihat memar di tangan mungil itu, betapa jahatnya aku ini. Tak sanggup aku manahan air mataku yang hampir terjatuh aku langsung berlari ke kamar dan mengabaikan tangan adikku yang masih terulur. Aku sempat melihat raut kecewa di wajahnya.
            Betapa malunya diriku, seorang kakak yang seharusnya menjadi panutan malah mempermalukan diri sendiri di depan adikku yang usianya jauh di bawahku. Aku yang salah, tapi kenapa adikku yang harus minta maaf. Seharusnya aku yang mengucapkan kata maaf karena telah membentak adikku, memarahinya, mencubitnya, memukulnya, menjambaknya, sampai-sampai aku hampir mencekiknya, ya Allah betapa jahat dan hinanya aku di matanya sebagai seorang kakak. Rasa gengsiku yang lebih tinggi daripada rasa bersalahku itu membuatku tega melakukan hal bodoh seperti itu.
            Aku segera menghapus air mataku dan mengambil coklat di tasku yang tadi sempat aku beli sepulang sekolah. Aku berniat untuk meminta maaf pada adikku. Dia masih berdiri di tepi meja makan tempatnya mengulurkan tangan padaku tadi. Dia masih menundukkan kepalanya, mungkinkah dia menangis? Aku segera menghampirinya dan mengulurkan tanganku yang berisi coklat. Dia mendongak kaget dan saat melihat tangan berisi coklat itu adalah tanganku dia langsung memelukku. Aku pun juga memeluknya. Tanpa bisa kutahan lagi air mataku mengalir dengan begitu deras. Adikku yang mengetahui aku menangis meletakkan jari-jari mungilnya di pipiku dan menghapus pipiku yang basah itu dengan perlahan.
            Aku sangat menyesal telah menuruti amarah dan gengsiku daripada rasa bersalahku. Aku harap, tak ada orang lain sepertiku, menyakiti orang lain yang tanpa kutahu sebenarnya dia adalah pahlawanku, penyelamatku, dan orang yang sangat menyayangiku. 


Retno Palupi