Copyright © About Story
Design by Dzignine
Rabu, 13 Februari 2013

Teka-Teki Jaket Hitam Silva


Part 3
Hari ini Silva harus merelakan motornya dibawa kakaknya. Motor kakaknya sedang masuk bengkel. Tadi pagi dia berangkat bersama kakaknya, tapi pulang sekolah ini dia harus naik bis kota untuk pulang.
Awalnya dia ditemani Rona menunggu bis di halte. Tapi tiba-tiba Rona mendapat telepon dari ketua ekskulnya untuk segera kembali ke sekolah, jadilah Silva ditinggal sendirian.
Lama sekali Silva menunggu, tapi bis yang akan dinaikinya tidak juga lewat. Hampir putus asa dia menunggu, tapi kalau tidak naik bis dia tidak bisa pulang. Sesekali dia berdiri di pinggir jalan untuk melihat bisnya dari ujung jalan.
Saat untuk kesekian kalinya dia berdiri, tiba-tiba ada yang menjajarinya. Entah kenapa kepalanya reflek menoleh. Dari bentuknya berdiri sih dia sepertinya pernah lihat, tapi siapa ya??
Merasa tidak penting memikirkan orang itu dia kembali berkonsentrasi ke jalan. Tapi, aku inget! Bukannya dia si Indra? Silva kembali menoleh, kali ini tepat saat orang itu menoleh.
Orang itu menautkan alisnya melihat Silva, seperti bingung melihatnya. Kayaknya dia emang bener-bener lupa sama aku deh?
Silva jadi enggan menyapanya, apalagi mengembalikan koin kembalian laundrynya. Silva merogoh saku roknya, koin itu masih di sana.
“Kamu yang punya jaket itu ya?”, Silva menoleh ke sumber suara. Waah, masih ingat ternyata!, seru Silva bahagia dalam hatinya.
“Oo, i..ya..”, jawab Silva kikuk.
“Gimana? Wangikan?”, tanya cowok bernama Indra itu.
“Iya sih, oya, ada yang ketinggalan!”, Silva merogoh kantongnya untk mengambil koin kembalian itu.
“ketinggalan?”
Silva menjulurkan tangan kanannya ke cowok itu. Cowok itu menerima sesuatu yang diberikan Silva untuknya. Dia membaca tulisan di kertas kecil itu. “Langganan laundry ya?”, tanya Silva.
“Hahahaha... buat kamu aja deh, hitung-hitung denda telat ngembaliin jaketnya.”
“Denda tiga minggu Cuma lima ratus perak? Tukang kredit aja duapuluh ribu!!”, protes Silva. Bukannya mau minta uang denda juga sih, tapi keterlaluan banget cowok ini.
“Hehe, aku tambah bakso sama es jeruk gimana? Kan dulu kamu pengen tuh pas aku lagi makan bakso di kantin?”
Silva tidak berani melihat wajah cowok itu, Silva sukses dibuat malu sama cowok ini. Dia polos atau apa sih?
“Gimana?”
“Nggak, nggak usah! Aku udah nggak pengen sekarang.”, jawab Silva bohong. Apalagi makan bakso sama dia, pengen banget.
“ Yah, yaudah kalau gitu. Eh, itu bis kamu bukan?”
“eh, iya. Aku duluan!”, silva cepat-cepat masuk bis.
“Silva, tunggu!” Silva menoleh ke belakang. Cowok itu memberikan koin yang tadi untuk Silva. Silva bingung melihatnya, dia kira tadi Cuma bercanda tapi ternyata cowok itu beneran memberikan koinnya untuk Silva. Dan Silva mau-maunya menerima koin itu.
Silva mencari tempat duduk agak belakang dekat jendela. Setelah pewe silva baru ngeh kalau cowok bernama Indra tadi memanggilnya dengan nama bukan dengan eh atau hei, tapi namanya. Silva. Dia menoleh ke halte, ke arah cowok itu. Dan dia masih berdiri di sana. Cowok itu tersenyum dan melambaikan tangannya ke Silva.
Silva jadi semakin bingung. Tau namaku dari mana? dia meraba nametagnya, tapi tidak ada.nametagnya ada di dalam tas, terus??
**
Selasa, 12 Februari 2013

Teka-Teki Jaket Hitam Silva


Part 2
Mereka berdua berjalan semakin dekat hingga mereka berpapasan. Cowok itu hanya melihat Silva sekilas dan tetap fokus pada jalan di depannya. Tak berbeda dengan cowok itu, Silva tersenyum kecil ke cowok itu, tapi mungkin hanya Tuhan dan Silva yang tahu kalau dia sedang tersenyum saking dipaksakannya senyum itu.
Dia takut-takut menoleh ke belakang dan akhirnya dia menoleh juga. Cowok itu tetap berjalan begitu santainya, seperti tak mengenali Silva, lupa mungkin ya sama wajahku? Ya sudah lah... Silva menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, sedikit kecewa. Dia melanjutkan jalannya lagi menuju parkiran.
**
Sore setengah siang itu, sepulang sekolah di lapangan basket. Silva menemui si cowok nggak jelas yang tadi meminjam jaketnya, lebih tepatnya agak memaksa.
Silva agak ragu awalnya, mengambilnya sendirian atau mengajak teman-temannya. Tapi melihat wajah tema-temannya yang sudah kelelahan dia tak tega. Akhirnya dia ke lapangan basket sendirian. Dengan langkah gontainya dia berpikir, pasti jadi bau tuh jaket dipake, dia kan cowok, secara bau keringat cowok kan lebih menyengat, ooh no!! Dia jadi teringat kakak cowoknya yang seminggu lalu meminjam kaos oblongnya-yang kebesaran. Saat dikembalikan masih belum juga dicuci, akhirnya Silva menghabiskan satu botol pewangi pakaian saat mencucinya.
Lapangan basket terlihat belum terlalu sepi. Silva menyapu pendangan ke seluruh pinggiran lapangan. Hanya cewek-cewek yang bersorak-sorai menyemangati cowok-cowok yang sedang iseng bermain basket.
“Hei!”
Silva dikagetkan oleh suara di belakangnya. Dia menoleh, “Eeh, hei!”
Cowok itu tersenyum lalu menggaruk kepalanya, kikuk. Silva jadi semakin bingung dengan cowok di depannya ini. Silva melihat tangan kiri cowok itu yang sedang tidak menggaruk kepala-ya iyalah, kalau dua tangannya menggaruk kepala pasti cowok ini spesiesnya siamang, hehe. Di tangan kirinya tidak ada jaket Silva.
“Hehe, sorry nih, aku lupa jaketmu yang mana?”
Doeengg!! Silva tak habis pikir, nggak bertanggung jawab banget sih cowok ini.
“Hloh??! Trus gimana dong?”, wajah Silva mulai panik, kesel, dan marah.
Sorrryyyy banget, tapi jangan marah dulu!! Emm, gini deh, kamu ikut aku bentar!”, pinta cowok itu dengan wajah innocentnya.
Silva hanya mengekor di belakang cowok itu, entah jaketnya bisa kembali atau tidak. Ternyata cowok itu mengajak Silva ke kantin. Di sana ada beberapa teman cowok itu dan Silva tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya.
Di kursi kantin itu bertumpuk beberapa jaket berwarna hitam dengan berbagai bentuk. Mulai jaket hitam yang warnanya sudah memudar, sablonnya mulai mengelupas, dan ada juga cardigan girly di sana.
“Jangan bilang jaketku di antara tumpukan itu, trus kamu bener-bener nggak inget yang mana jaketku! Dan kamu ngajak aku ke sini biar aku milih di antara banyak jaket itu yang mana jaketku?”, tebak Silva.
Cowok itu tersenyum lebar dan menjentikkan jarinya tepat di depan muka Silva.
“Yup! Tepat banget!! Soalnya tadi temen-temenku juga minjem jaket warna hitam semua, trus abis main drama kita asal naruh tuh jaket di meja, taunya aku lupa yang mana jaketmu? Jadi kamu.. hloh, eh, tunggu dulu aku belum selesai jelasin, eh!!”
Silva sudah tidak lagi mendengarkan penjelasan panjang lebar cowok itu. Dia berjalan mendekati tumpukan kain berwarna hitam itu. Miris hatinya membayangkan jaketnya yang wangi harus bercampur tak karuan dengan bau cowok-cowok. Tangan putih Silva mulai memilihi jaket itu. Ini sih nggak lagi bau, tapi BAU GILAAAA!!! Aaarrgh!
Silva geram dengan cowok itu! Dia sedang sibuk mencari jaketnya, eh cowok itu malah asyik makan bakso di depannya. “Kamu enak banget sih, nggak ikut bantuin nyari malah makan bakso! Aku juga laper tauu!!”, kata Silva tiba-tiba.
Cowok itu berhenti mengunyah bakso yang masih setengah lingkaran. Demi melihat wajah Silva yang manyun, dia menelan bakso itu tanpa mengunyah. Alhasil cowok itu malah keselek dan terbatuk-batuk. Silva pengen tertawa melihatnya, tapi karna dia terlanjur terlihat marah jadi dia mengalihkan mukanya untuk mengalihkan perhatiannya pada cowok aneh sekaligus konyol itu.
Cowok itu berdiri. “Aduh, sorry,aku nggak tahu kalau kamu laper. Mau aku pesenin juga??”, tanyanya polos. Silva semakin geram. Dia melempar jaket hitam yang sedang ada di tangannya.
“Ah, tau ah! Cari sendiri jaketku sampe ketemu. Warna hitam, resleting depan, tulisannya No Pain No Gain! warna putih, ukuran L, warnanya masih kinclong nggak buluk kayak gini. Oh ya, inget!! Jaketku wangi! Kalau udah ketemu dan jaketku nggak wangi, kamu harus cuci dulu sampai wangi lagi, titik! Terserah kamu, jeketku harus kembali dengan selamat, dan aku nggak mau kalau kamu beliin jaket baru buat gantinya!”
Silva menarik nafasnya panjang, lalu membuangnya gitu aja. Dia berbalik dan meninggalkan cowok itu yang kaget melihat Silva marah-marah. Sebelum pergi Silva sempat melihat es jeruk di meja tadi, uh! Jadi haus marah-marah, pasti seger tuh es jeruk!!
Cowok itu memandangi tas Silva yang menjauh. Dia ganti memandangi tumpukan jaket itu, lalu tersenyum jail. Dia duduk lagi di kursinya dan merogoh ke dalam tasnya. Dia mengeluarkan jaket hitam dari dalam tasnya. Cowok itu hanya geleng-geleng mengingat wajah Silva tadi saat marah-marah. “Siapa juga yang mau beliin kamu jaket baru? Haha.”
**

Teka-Teki Jaket Hitam Silva


Part 1
Plok...plok...plok...
Suara tepuk tangan penonton menggema di setiap sudut aula itu. Penampilan drama dari kelas XI-A1 benar-benar membuat penonton terpesona sekaligus terbahak melihat lakon-lakon yang pantas untuk main  layar lebar siang itu. Agak berlebihan sih, tapi memang begitu adanya, haha.
Silva yang hanya sebagai pemeran pembantu pun bermain dengan begitu luesnya, seolah dia itu adalah bintang sinetron terkenal. Lega sudah rasanya bisa bermain drama di depan penonton yang memenuhi aula.
Siang itu matahari tak segan-segan membakar bumi, membuat aula sekolah Silva yang tidak begitu besar dan sesak oleh penonton menjadi sangat panas. Gerah rasanya berlama-lama di dalam.
Silva keluar dengan beberapa temannya dengan menyampirkan  jaket hitamnya di pundaknya. Jaket hitamnya itu sukses membuat para penonton terkecoh karena dengan jaket itu Silva bisa menyerupai teman-teman cowoknya.
“Eh, boleh pinjem jaketnya nggak?”
Seorang cowok tidak dikenal Silva menghentikan langkahnya. Silva belum pernah melihat wajah cowok ini. Silva hanya berdiri mematung di depannya sambil mengamatinya dari atas sampai bawah.
“Aduuh, boleh nggak nih? Boleh ya? Bentar aja!”
Belum sempat Silva menjawab pertanyaannya cowok itu sudah menyambar jaket Silva dan berlari menuju aula.
“Eh!!” Pekik Silva tertahan, antara kaget dan bingung.
“Pulang sekolah di lapangan basket!”, teriak cowok itu tanpa menoleh ke belakang lagi. Tangannya melambai tak jelas.
Silva memandangi teman-temannya, mereka mengangkat bahu bersamaan, lalu mereka saling berpandangan lagi.
“Siapa sih dia? kok aku belum pernah lihat cowok tadi ya? Anak baru?”, tanya Silva bingung.
“Bukan deh, Sil, kamu aja yang baru pertama kali ini lihat dia. kalau nggak salah sih, dia anak A-5. Ehh, bener nggak sih temen-temen?”
“Kayaknya sih gitu”, jawab Rona dengan mulut berjubal makanan.
Mereka mulai berjalan lagi, menuju kelas mereka yang nggak begitu jauh dari aula. Silva masih mematung di tempatnya, lalu berbalik menuju aula. Dia mengintip dari jendela paling depen. Ooh, jaketku buat main drama juga...
**
Silva memandangi koin lima ratusan di tangannya bergantian dengan jaketnya. Parfumnya menguar ke seluruh kelas. Lalu dia tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadia tiga minggu lalu.
Silva mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, sudah sepi. Hanya tertinggal beberapa tas dan sepatu, ke mana para pemiliknya?, batinnya. Dia pun membereskan mejanya yang berserakan, lalu memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
Dia duduk, lalu memandangi koin itu lagi. “Gimana caranya ngembaliin koin ini ya?”, gumamnya.
Diambilnya kertas pembengkus koin itu dan membungkus koin lima ratusan itu seperti sedia kala. Di atas kertas itu tertulis, KEMBALIAN LAUNDRY INDRA. Silva memasukkan koin itu ke dalam sakunya dan memakai jaketnya.
Silva berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan cowok bernama Indra yang meminjam jaketnya, tiga minggu lalu. Dia merogoh koin yang ada di saku roknya, dia meremas koin itu. Artinya Silva sedang berpikir, dikembalikan sekarang atau tidak ya?

Belalang Abu-Abu


Suatu malam aku pernah bermimpi. Mimpi yang aneh pikirku. Awalnya aku tak mengerti apa arti mimpiku waktu itu. Tapi saat aku mengingat apa yang mengangguku akhir-akhir ini, aku baru menyadari satu hal.


Siang di bulan kemarau yang terik dia berjalan sendirian tanpa teman. Tidak ada yang ingin berteman dengannya, melihatnya pun enggan. Kaki mungilnya yang tidak beralas-tidak mungkin beralas malah-mencoba menyisir jalan yang dipenuhi dedaunan kering yang putus dari rantingnya. Peluh menetes, berkejaran melintasi pipinya. Keringat saja ingin cepat-cepat meninggalkannya, tidak ingin berlama-lama dengannya.
Sungguh malang nasibnya kala itu. Dia menghentikan langkahnya di bawah pohon yang cukup rindang untuk melindunginya dari terik matahari. Duduk berselonjor bersandarkan pohon untuk sejenak mengusir lelah. Pluk!! Sebuah bunga berwarna merah muda menjatuhi kepalanya yang juga mungil. Dipandanginya bunga merah muda itu. Indah. Belum pernah dia menemui bungan seindah itu, bahkan bau wanginya melebihi bau taman bunga dekat tempatnya beristirahat.
Takut-takut dia mendekati bunga itu. Hanya bergerak ke kanan dan ke kiri bunga merah muda itu diterpa angin. Menunggu tangan mungilnya memungut benda merah muda itu sebelum angin membawa bunga itu pergi lagi. Dengan hati-hati tangan mungilnya menyentuh, hanya menyentuh. Kembali ditatap kanan dan kiri. Masih sama. Mereka sedikitpun tidak memperhatikannya, sekedar melihatnya pun tidak. Tangan mungil itu kembali mendekat menyentuh dan merengkuhnya.
Bagus sekali dia. Cantik! Andaikan aku seperti dia, mungkin aku tidak sendirian seperti ini. Ratapnya sedih dalam hati. Hanya dia dan Tuhan yang mendengarnya.
Dia akan memamerkan bunga itu pada semua orang. Bahwa dia yang kelabu mempunyai bunga yang amat indah, wangi, dan mencolok! Dia tak lain adalah belalang malang berwarna abu-abu yang hidup tanpa seorang teman pun. Berjalan sendirian, berbicara sendirian, mengadu pada Tuhan dalam hatinya. Mungkin tidak akan akan ada yang menemui belalang berwarna abu-abu di dunia ini, jika memang Tuhan berkehendak menciptakannya mungkin hanya di negeri ini, tempat belalang itu hidup.
Disapanya Pak Kecoak yang sedang hilir-mudik di dekat tong sampah yang penuh sesak, entah kapan terakhir petugas kebersihan membersihkannya. Dia mendekati Pak Kecoak dengan hati-hati. Perlahan dia tersenyum, melengkungkan garis bibirnya. Pak Kecoak hanya melihatnya sekilas, enggan melihatnya kembali, apalagi berbicara dengannya. Membuang waktu.
Dia tidak menyerah, kembali berjalan mencari teman. Dia melihat ibu laba-laba sedang mengandung. Terlihat ibu laba-laba itu sedang menanti suaminya kembali di jaring-jaring yang susah payah ia buat di sela-sela ranting pohon. Dia menatap ibu laba-laba itu lama, yang ditatap malah membentak! “Pergi kau! Aku tidak ingin nanti anakku berwarna kelabu sepertimu, hidup malang sepertimu. Dasar jelek!!”. Bagai badai yang menghantamnya saat itu. Maki ibu laba-laba itu sempurna menghentikan usahanya. Langit yang sedari tadi cerah memperlihatkan matahari yang dengan nyamannya bertengger di atas sana membakar bumi mulai mendung. Berwarna kelabu.
Air matanya menetes seiring dengan jatuhnya air dari langit yang dikirim Tuhan menemani tangisnya. Mungkin hanya air langit itu yang diutus Tuhan menemaninya sekarang. Sambil tetap mendekap bunga merah muda tadi dia berjalan menyusuri jalan yang kini berair. Kembali dia menemukan pohon, namun tak rimbun. Pohon itu kurus, kering, daunnya hanya tertinggal tiga helai, dan hujan kali ini membayar sudah penderitaannya selama musim kemarau yang mengganas. Dilihatnya pohon itu, kalau saja dia mempunyai kaki pasti dia akan berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Dia mengacuhkan pohon itu, hanya berdiri di bawahnya, pasrah pada tiga helai daun yang entah melindunginya atau tidak. Kecipak!! Genangan air di bawah pohon berirama tidak jelas. Sebuah benda kecil berwarna abu-abu jatuh dari pohon. Dia yang sedang khidmat melamun tertoleh melihat benda kecil itu. Apa? Tanyanya dalam hati, lagi-lagi hanya dia dan Tuhan yang mendengar. Benda itu bergerak, oh tidak, dia bergetar. Sejurus kemudian dia sudah berdiri. Ternyata benda itu juga hidup. Matanya mengerjap, mencoba mengenali sekitarnya. Air. Hujan. Basah. Segar. Dan belalang abu-abu. Kembali ia mengerjap. Aiih, ternyata ada belalang berwarna abu-abu!
Benda itu tak lain juga serangga. Entah serangga berjenis dan bernama apa itu, dari negeri mana pula, yang jelas tidak ada di negeri si belalang.
Serangga itu mendekatinya, mengulurkan tangan, melengkungkan garis bibirnya, tersenyum. Si belalang terlonjak kaget, berjalan mundur menghindarinya. Takut. Namun serangga itu tak menyerah, melangkahkan kakinya. Belalang mundur lagi. Maju selangkah. Mundur dua langkah. Maju dua langkah. Mundur empat langkah. Tanpa ampun serangga itu merebut bunga dalam dekapan belalang abu-abu itu. Si belalang tidak terima. Dia berteriak. Untuk yang pertama kalinya. ”Hei!! Itu punyaku!”
Serangga aneh itu malah tersenyum jahil. Lalu menggapai tangan mungil si belalang. Kali ini dia tidak punya waktu untuk menghindar. Digandengnya tangan mungil itu, entah ke mana. Yang jelas, sang serangga tahu ke mana dia harus membawa belalang abu-abu mungil itu. Sepanjang jalan dia tak henti-hentinya tersenyum bahagia, amat bahagia. Sepanjang jalan itu pula si belalang hanya diam, namun jauh dalam hatinya sana, dia berterima kasih pada Tuhan. Ada yang menggenggam tangan mungil itu. Semakin lama mereka berjalan, semakin menghilang pula bayangan mereka berdua. Hilang. Hanya menyisakan jejak kaki di jalanan yang becek. Indah pada waktunya bukan. Tuhan memang adil.
Saat terbangun dari tidurku, aku benar-benar merasa sangat beruntung. Ternyata Tuhan masih sayang padaku. Terima kasih Tuhan.
Selasa, 29 Januari 2013

About "Orde Baru"


Pemerintahan Orde Baru dan Reformasi di Indonesia

            Pemerintahan Orde Baru merupakan suatu tatanan seluruh peri kehidupan rakya, bangsa dan negara yang diletakkan kembali kepada pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
            Orde baru lahir sebagai koreksi total atas pemerintahan Orde Lama. Yang melatarbelakangi lahirnya Orde Baru diantaranya Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI). Di sisi lain, keadaan perekonomian Indonesia juga semakin memburuk. Barang kebutuhan sehari-hari semakin sulit didapat, harganya pun semakin tinggi, sehingga terjadi inflasi besar-besaran.
            Untuk menghadapi gerakan G-30-S/PKI ini dibentuklah Front Pancasila yang kemudian mengeluarkan Tritura (tri tuntutan rakyat) kepada pemerintah yang isinya sebagai berikut:
a.       Pembubaran PKI beserta ormasnya
b.      Pembersihan kabinaet dwikora dari unsur-unsur PKI
c.       Penurunan harga barang.
Kemudian pada tanggal 11 Maret 1966 digelar sidang paripurna yang agendanya merumuskan langkah-langkah keluar dari krisis ekonomi, sosial, dan politik Indonesia. pada hari itu juga Presiden Soekarno mengeluarkan suatu surat perintah kepada Letjen. Soeharto untuk mengatasi masalah keamanan dan krisis politik pada masa itu, yang disebut dengan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret).
Selanjutnya Letjen. Soeharto dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia pada tanggal 12 Maret 1967 berdasarkan ketetapan No. XXXIII/MPRS/1976.
Pada masa pemerintahan Orde Baru, Presiden Soeharto mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam berbagai bidang, diantaranya:
1.      Kebijakan Ekonomi
a.       Mengadakan operasi pajak
b.      Penghematan di bidang pengeluaran pemerintah
c.       Membatasi kredit bank dan menghapus kredit impor
2.      Kebijakan Pembanguanan
a.       Pelita I (1 April 1969-31 Maret 1974)
b.      Pelita II (1 April 1974-31 Maret 1979)
c.       Pelita III (1 April 1979-31 Maret 1984)
d.      Pelita IV (1 April 1984-31 Maret 1989)
e.       Pelita V (1 April 1989-31 Maret 1994)
f.       Pelita VI (1 April 1994-31 Maret 1999)
3.      Kebijakan Luar Negeri
a.       Indonesia kembali menjadi anggota PBB
b.      Normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia
c.       Pembentukan ASEAN
d.      Keikutsertaan Indonesia dalam berbagai orgaanisasi Internasional
Dalam perkembangannya pemerintahan Orde Baru ternyata tidak melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara konsekuen. Pemanfaatan Pancasila semakin tampak pada usaha pemerintah untuk menempatkan Pancaasila sebagai asaas tunggal semua organisasi, sehingga pemerintah terkesan otoriter dan keras. Kedudukan presiden Soeharto semakin kuat karena dukungan dari tiga sektor utama, militer, ekonomi, dan budaya.
Keberhasilan pemerintahan Orde Baru dalam pembanguan memang tampak sebagai suetu prestasi, namun dari kberhasilan itu muncul usaha pemerintah untuk mempertahankan kekuasaannya, sehingga tindakannya semakin menyeleweng dari Pancasila dan UUD 1945.
Dari hal tersebut muncul beberapa krisis yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan Orde Baru, diantaranya:
a.       Krisis ekonomi dan moneter
b.      Krisis politik dengan meluasnya KKN di tubuh pemerintahan
c.       Krisis kepercayaan dari masyarakat terhadap pemerintah
d.      Krisis Sosial
e.       Krisis hukum
Dari penyimapangan-penyimpangan tersebut muncul suatu gerakan reformasi yang menginginkan tatanan peri kehidupan baru secara hukum menuju perbaikan di Indonesia. Gerakan reformasi ini muncul pada tahun 1998. Faktor pendorong gerakan reformasi ini adanya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada masa Orde Baru yang disebutkan di atas. Dalam gerakan ini mahasiswa kemudian menyusun agenda reformasi yang berisi:
a.       Mengadili Soeharto dan kroni-kroninya
b.      Melakukan amandemen UUD 1945
c.       Menghapus Dwifungsi ABRI
d.      Penegakan supermasi hukum di Indonesia
e.       Menegakkan pemerintahan yang bebas KKN
f.       Otonomi daerah seluas-luasnya.
Menanggapi hal itu, Presiden Soeharto mendapat tekanan dari berbagai pihak agar mengundurkan diri dari kursi kepresidenan, bahkan orang-orang yang sebelumnya mendukung pemerintahannya. Maka pada tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya dar kursi kepresidenan dan dilantiklah wakil Presiden B.J Habibie sebagai Presiden Republik Indonesia yang baru, dengan demikian berakhirlah pemerintahan Orde Baru dan lahirlah Reformasi.
Untuk menangani keadaan negara yang sangat kacau, Habibie membentuk Kabinet Reformasi pembangunan untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam bebrapa bidang, diantaranya:
a.       Melakukan perbaikan ekonomi
b.      Perbaikan bidang politik, dengan memberikan kebebasan pembemtukan partai
c.       Kebebasan menyampaikan pendapat
d.      Menghapuskan Dwifungsi Abri dengan memisahkan Kepolisian Republik Indonesia dari tubuh ABRI
e.       Reformasi dalam bidang hukum
f.       Melakukan pemilihan umum tahun 1999, namun Presiden Habibie tidak dapat maju karena pidato pertanggung jawabannya ditolak oleh beberapa anggota. Dan hasil dari pemilu ini, K.H. Abdurrahman Wahid terpilih menjadi presiden RI yang keempat.
Dalam masa pemetintahannya presiden K.H. Abdurrahman Wahid dibantu oleh wakil presiden Megawati Soekarno Putri. Kebijakan yang ditempuh pada masanya adalah:
a.       Pemberhentian Kapolri Jendral Roesmanhadi
b.      Pemberhentian Kapuspen Hankam Mayjen TNI Sudrajat dan diganti dengan Marsekal Muda Graito dari TNI Au
c.       Pemberhentian Wiranto sebagai menkopolkam karena adanya hubungan yang tidak harmonis dengan presiden
d.      Mengeluarkan pengumuman tentang adanya menteri Kabinet Persatuan Nasional yang terlibat KKN
e.       Menyetujui nama Papua menggantikan Irian Jaya
Selain hal tersebut berkembang pula pendapat bahwa presiden kerap dianggap berjalan sendiri tanpa mau menaati aturan ketatanegaraan. Selanjutnya dalam Sidang Istimewa MPR tanggal 23 Juli 2001, MPR memilih Megawati sebagai Presiden RI mengantikan K.H. Abdurrahman Wahid dengan wakilnya Hamzah Haz.
Dalam pemerintahannya Megawati mengumumkan kabinet yang bernama Kabinet Gotong Royong. Megawati sebagai peletak dasar ke arah kehidupan demokrasi karena pemerintahannya berhasil melaksanakan pemilu tahun 2004 yang berlangsung aman dan damai untuk pertama kalinya presiden dipilih langsung oleh rakyat. Dari hasil pemilu tersebut terpilihlah Susilo Bambang Yodhoyono sebagai presiden RI yang baru dengan wakil presiden Jusuf Kalla.
Dalam pemerintahannya Presiden SBY melakukan beberapa kebijakan di berbagai bidang dalam kabinet Indonesia Bersatu. Dan pada pemilu 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terpilih lagi menjadi presiden RI dengan wakil presiden Budiono dengan Kabinet Indonesia Bersatu II.